Merayakan Keragaman Seni Budaya dan Pemikiran Perempuan bersama CME-Fest

Hibah Cipta Media Ekspresi baru saja menyelenggarakan festival seni dan budaya yang bertajuk “Festival Cipta Media Ekspresi: Etalase Pemikiran Perempuan” atau CME-Fest pada 26-28 April 2019 di Taman Budaya Yogyakarta. Festival ini merupakan acara penutupan dari proyek hibah Cipta Media Ekspresi yang diluncurkan pada Januari 2018 dan menyuguhkan pertunjukan, panel diskusi, seminar, pameran, bazaar mini, serta lokakarya.

 

Cipta Media Ekspresi merupakan hibah untuk perempuan pelaku kebudayaan di segala bidang seni yang didanai oleh Ford Foundation dan dikelola oleh Wikimedia Indonesia. Diumumkan pada Hari Kartini tahun lalu (21 April 2018), Cipta Media Ekspresi telah memberikan hibah total sebesar 3,5 milyar rupiah kepada 40 perempuan dari berbagai daerah di Indonesia dengan proyek seni budaya yang beragam.

 

Setelah bekerja keras merampungkan proyek seni budayanya masing-masing, 40 orang perempuan peraih hibah Cipta Media Ekspresi memajang proses berkarya maupun hasil karya mereka kepada publik. Itu sebabnya festival ini memilih ‘Etalase Pemikiran Perempuan’ sebagai tema. Selama tiga hari berturut-turut, publik diajak berdialog, berdebat, berbagi, belajar, berkarya bersama, serta menyaksikan beraneka ragam pertunjukan seni hasil proses berkarya dalam kurun waktu sembilan bulan ini.

 

Pada 26 April, diadakan lokakarya pembacaan karya fiksi untuk rekaman audiobook yang dapat dinikmati oleh kawan-kawan difabel netra yang diorganisir oleh Indah Darmastuti (Surakarta). Juga ada lokakarya menyanyikan nyanyian tradisi suku Yaghai dari Papua yang dibawakan oleh Septina Layan (Jayapura). Hasil dari kedua lokakarya ini kemudian ditampilkan juga di festival ini. Selain itu, hari pertama juga dimeriahkan dengan pertunjukan gamelan dari Pasinaon Omah Kendeng (Pati), pembacaan monolog oleh Kadek Sonia Piscayanti (Singaraja), serta konser Jungga oleh Kahi Ata Ratu (Sumba).

 

Adik-adik dari Pasinaon Omah Kendeng tampil di CME-Fest.
Sang Maestro Jungga, Kahi Ata Ratu, membawakan lagu-lagu ciptaannya.
Monolog “Perempuan Tua dan Babinya” oleh Kadek Sonia Piscayanti.

 

Hari kedua festival yaitu 27 April dipenuhi dengan panel diskusi dan kelas master di berbagai bidang. Pegiat sastra antusias mengikuti klinik menulis fiksi bersama Intan Paramaditha, Mona Sylviana, Intan Andaru, dan Raisa Kamila. Penikmat film memadati presentasi karya film oleh Luviana Ariyanti, Yulia Evina Bhara, serta Chonnie Prysilia, dan dimoderatori oleh Lisabona Rahman. Selain itu, pecinta musik juga menyimak diskusi mengenai perempuan, musik, dan komunitas yang menghadirkan Endah Fitriana (komunitas Kendeng/Jawa Tengah), Nikfon Wuny (Yanger, desa Lolori/Halmahera Barat), Ade Tanesya (komunitas Pagu/Halmahera Timur), Septina Layan (suku Yanghai/Papua), dan Agnes Serfozo (Seblang, desa Bakungan/Jawa Timur). Di bidang seni pertunjukan pun ada diskusi mengenai bagaimana pengalaman perempuan jarang diakui sebagai sumber penting dalam penciptaan seni pertunjukan bersama Irina Dayasih, Sylvia Saartje, Nova Ruth, Kadek Sonia Piscayanti, Nanik Indarti, serta Naomi Srikandi.

 

Sementara itu, juga ada diskusi-diskusi reflektif mengenai perspektif kritis akan cerita-cerita dan ruang-ruang perempuan. Di panel “Herstory“, moderator Heidi Arbuckle Gultom bersama dengan para pembicara, yaitu Dewi Noviami, Lia Anggia Nasution, Rena Amalika Asyari, Alia Swastika, Martha Hebi berdiskusi tentang bagaimana cerita menggerakkan perlawanan dan perubahan namun juga digunakan untuk menandai kalah-menang. Sedangkan di diskusi “Ruang Perempuan”, Cecil Mariani bersama Citra Hasan, Indah Fikriyyati, Ciptaningrat Larastiti, Delva Rahman membicarakan mengenai bagaimana ruang itu tergenderkan dalam fungsi dan bagaimana kita melihat reproduksi gender dalam ruang yang kita inisiasi. Diskusi dan lokakarya ini diakhiri dengan paduan suara nyanyian Yaghai, pembacaan dramatis (dramatic reading) oleh Nanik Indarti serta pertunjukan musik oleh Sylvia Saartje.

 

Nanik Indarti membawakan pembacaan dramatis dari salah satu bab bukunya.
Septina Layan dan quintetnya membawakan nyanyian Eb suku Yaghai yang biasa dibawakan ketika salah satu kerabat meninggal dunia.
Sang Lady Rocker, Sylvia Saartje, membawakan karya-karya ternama juga terbarunya.

 

Di hari terakhir CME-Fest, 28 April, publik disuguhkan diskusi mengenai metodologi penelitian dan penciptaan berperspektif feminis sebagai upaya intervensi terhadap pengetahuan dan perubahan sosial. Seluruh rangkaian acara festival kemudian ditutup dengan gempita oleh penampilan akustik Nova Ruth dan pesta musik yang dipandu oleh DJ Purbasari.

 

CME-Fest ditutup dengan penampilan akustik oleh Nova Ruth.

 

 

Sebelumnya

#WikiGap Bandung untuk Internet yang Lebih Berimbang

Tahukah Anda bahwa 9 dari 10 editor Wikipedia adalah laki-laki dan hanya 20% artikel biografi di...

Berikutnya

WikiNusantara, Konferensi Nasional Perdana untuk Komunitas Wiki Terselenggara dengan Sukses

Setelah berhasil mengadakan konferensi tingkat regional East Asia, Southeast Asia, and Pacific...