The 2019 Creative Commons Global Summit: Perjalanan Menemukan Ilmu Baru, Teman Baru, dan Diri yang Baru

Penulis: Siti Nurleily Marliana

 

Kesempatan untuk menghadiri The 2019 Creative Commons Global Summit (CCGS) dengan beasiswa perjalanan dari Creative Commons Indonesia (CCID) merupakan salah satu pengalaman terbaik yang pernah saya dapatkan seumur hidup saya. Meskipun demikian, kekhawatiran membayangi keberangkatan saya ke Lisbon. Sebagai orang yang masih baru dalam lingkaran Creative Commons (CC), dengan bidang aplikasi lisensi CC yang relatif sempit dan spesifik (yaitu dalam publikasi ilmiah), saya hanya mempunyai sedikit bayangan mengenai apa yang akan saya lakukan dan dapatkan selama menghadiri CCGS. Saya hanya berharap, setidaknya di sana saya akan mendapatkan informasi perkembangan terkini mengenai gerakan akses terbuka dan edukasi terbuka, serta mendapatkan kesempatan berbagi pengalaman dengan para peserta yang juga merupakan praktisi akses terbuka, terutama yang berkaitan dengan publikasi ilmiah.  

 

Dalam track Open Education, Open Science, and Open Access, sesi-sesi CCGS didominasi oleh topik yang berkaitan dengan pendidikan terbuka dan pembangunan sumber pembelajaran terbuka (OER). Contoh kasus dan strategi pengembangan OER yang saya peroleh masih relatif terlalu maju atau tidak kompatibel, khususnya bagi lingkungan pendidikan tinggi di Indonesia di mana penggunaan maupun pengembangan OER masih berada pada tahap permulaan. Meskipun demikian, informasi yang saya peroleh dari berbagai sesi tersebut akan sangat bermanfaat sebagai bekal perencanaan di masa depan. Contoh kasus menarik dari sesi yang saya hadiri adalah kasus gerakan mahasiswa di Alberta, Kanada, dalam menuntut penggantian buku-buku perkuliahan mereka dengan OER, karena mahalnya harga buku-buku tersebut. Dari pengalaman saya pribadi selama menjadi mahasiswa maupun pengajar, kebutuhan untuk mendapatkan bahan kuliah dalam bentuk OER di Indonesia relatif rendah, karena sistem perkuliahan kita tidak mewajibkan pembelian buku, dan masih berjalannya budaya fotokopi buku teks secara ilegal. Sayangnya, di luar pengharapan saya, tidak banyak sesi mengenai penggunaan lisensi CC pada publikasi ilmiah, terutama yang membahas berbagai tantangan yang dihadapi atas penerapannya. Namun demikian, banyaknya sesi yang memicu rasa keingintahuan saya mengobati kekecewaan saya atas hal tersebut.

 

Walaupun selama tiga hari pelaksanaan CCGS saya berencana memusatkan perhatian saya pada track Open Education, Open Science, and Open Access, banyaknya pilihan sesi menarik yang berjalan secara paralel membuat fokus saya agak buyar. Akhirnya, saya mengabaikan susunan sesi acara yang saya rencanakan sejak jauh hari sebelum keberangkatan saya ke Portugal, dan mengikuti ke sesi mana naluri saya membawa. Salah satu sesi yang sangat menarik bagi saya adalah sesi CC Music Makers Show Cases. Dalam sesi ini, dua pembicara dari the Tribe of Noise membagikan pengalaman mereka dalam membangun dan mengelola komunitas musik terbuka daring, di mana puluhan ribu musisi dari puluhan negara di dunia bergabung sebagai anggotanya, saling berbagi karya mereka yang berlisensi CC, dan menjalankan bisnis berdasarkan prinsip keterbukaan. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, keingintahuan saya mengenai sejauh mana the Tribe of Noise mengintervensi idealisme anggotanya dalam bermusik dalam upaya mendorong karir mereka tidak memperoleh jawaban. Sesi lain yang juga menarik perhatian saya adalah sesi peluncuran CC Create, suatu platform bagi para seniman dalam komunitas CC untuk saling berbagi karya dan menjalin kerja sama. Keberadaan CC Create akan membantu mengimbangi lemahnya pemanfaatan lisensi CC dalam bidang seni, sekaligus mempromosikan karya-karya yang berlisensi CC.

 

Ada peristiwa menarik di hari ketiga pelaksanaan CCGS, ketika saya diminta oleh CCID Chapter Leader, Fitriayu, untuk menjadi narasumber pengganti dalam sesi diskusi panel “How can we promote Creative Commons awareness in new communities?”. Walaupun dengan sedikit panik karena harus mempersiapkan materi dalam waktu kurang dari satu jam, akhirnya saya berhasil memaparkan penggunaan CC dalam dunia publikasi ilmiah di Indonesia dan di universitas saya, Universitas Gadjah Mada, pada khususnya. Saya menceritakan proses pengenalan dan pelatihan penerapannya pada artikel-artikel jurnal di lingkungan UGM, perannya dalam mendorong keterbukaan di komunitas jurnal UGM, serta tantangannya. Dalam sesi diskusi, peserta mempertanyakan sejauh mana gerakan keterbukaan akses di Indonesia atas data dan hasil penelitian yang bersumberkan dana dari masyarakat, sebagaimana yang sudah dijalankan di berbagai institusi di UK, US, serta sebagian negara-negara di Eropa, dan apakah para kontributor dalam jurnal ilmiah di Indonesia memahami hak-hak mereka atas hak cipta, pengarsipan, dan/atau penyebarluasan artikel mereka. Saya menyampaikan bahwa di Indonesia, kedua hal tersebut masih berada dalam tahap awal perkembangan dan masih memerlukan dukungan kampanye, terutama untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran para penulis akan hak-hak mereka. Setelah sesi panel tersebut, seorang peserta dari Amerika Selatan menghampiri saya untuk berdiskusi mengenai pengalaman dan permasalahan mengenai gerakan keterbukaan dan penggunaan lisensi CC di negara kami masing-masing, dan berharap bisa melanjutkan komunikasi di masa mendatang untuk kepentingan risetnya. Saya sangat lega akhirnya menemukan seseorang di CCGS yang berjuang di jalur yang sama dan menghadapi permasalahan yang serupa.

 

Selama di Lisbon, ternyata banyak pengetahuan di luar CC dan gerakan keterbukaan yang juga saya dapatkan. Keindahan kota Lisbon dan arsitekturnya, serta keramahan luar biasa penduduk lokalnya sangat berkesan buat saya, bahkan lebih mengesankan dibandingkan yang saya alami di berbagai kota di Eropa yang pernah saya singgahi atau tinggali. Selain itu, berkat Bhredipta, sesama delegasi CC dari Indonesia yang setia menjadi narator di setiap monumen atau lokasi bersejarah yang kami kunjungi, saya kembali belajar mengenai kaitan sejarah antara Indonesia dan Portugal di masa lalu yang sudah saya lupakan sejak zaman saya lulus SMA. Kenangan atas zaman kejayaan Portugal di laut pada masa eksplorasi ratusan tahun yang lalu tersebar di berbagai museum dan monumen di Lisbon. Suami saya, yang kebetulan berkebangsaan Portugal, dengan bergurau mengatakan bahwa, “…kalau saja [saat itu ukuran] Portugal sebesar Spanyol, saat ini sebagian besar negara di dunia pasti berbicara dalam bahasa Portugis…”, sebagai tanggapan atas komentar saya mengenai kecanggihan desain kapal-kapal perang Portugis di Museum Kelautan (Museu de Marinha), Belém.

 

Banyak sekali pengalaman dan pengetahuan berharga yang saya dapatkan selama menghadiri CCGS 2019 ini. Untuk itu, ucapan terima kasih dan rasa apresiasi yang sebesar-besarnya saya berikan kepada CCID dan seluruh keluarga besarnya atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Melihat begitu besarnya antusiasme peserta dan pembicara yang menghadiri CCGS membuat saya jadi tertulari semangat mereka untuk tetap gigih berjuang bersama CC. Hanya ada sedikit komentar dari saya mengenai kelemahan format pelaksanaan CCGS, yaitu terlalu banyaknya jumlah sesi paralel. Hal ini menyebabkan sedikitnya jumlah peserta di masing-masing sesi. Selain itu, cakupan topik yang sangat luas berdampak pada kurangnya kedalaman dan fokus materi yang dipresentasikan. Mengingat CCGS merupakan kegiatan rutin setiap tahun dan telah berlangsung beberapa kali, saya kira CC Headquarter perlu mempertimbangkan untuk menjalankannya secara tematik, dengan mengangkat topik yang spesifik setiap tahunnya sehingga CCGS dapat menghasilkan keluaran dengan dampak yang lebih nyata.

 

Saat ini saya telah kembali ke habitat saya sebagai pengajar dan peneliti, di mana falsafah gerakan keterbukaan dan manfaatnya baru dikenal di kalangan terbatas. Dengan segala keterbatasan saya, berbekal ilmu yang saya peroleh selama proses Training of Trainers CCID, sertifikasi CC for Educators, dan CCGS 2019, saya berusaha menyebarluaskan ide keterbukaan, terutama di kalangan mahasiswa. Di bidang publikasi ilmiah, orientasi para penulis memilih sistem akses terbuka adalah untuk meningkatkan kemungkinan dikutip oleh penulis yang lain sehingga meningkatkan indeks sitasi mereka. Fakta bahwa pada sisi lain sistem akses terbuka tersebut akan memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk mengakses ilmu pengetahuan terkini belum menjadi motivasi utamanya. Banyak tantangan yang harus saya hadapi dan akan memerlukan proses yang lama. Meskipun demikian, saya pribadi percaya bahwa semangat keterbukaan dan berbagi tidak bisa dipaksakan. Semangat tersebut harus dimulai sedikit demi sedikit, mengubah budaya yang telah berkembang sejak lama menuju kesadaran bahwa keterbukaan bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat luas, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Jalan menuju keterbukaan akan tergapai pada waktunya karena keterbukaan bukan hanya sekadar kebutuhan, tetapi juga merupakan konsekuensi yang tak terhindarkan dari perkembangan umat manusia.

Sebelumnya

Kontes Adaptasi Karya: Kita Berkarya, Kita Merdeka

Deskripsi Lomba Kontes Adaptasi Karya: Kita Berkarya, Kita Merdeka merupakan kegiatan kolaboratif...

Berikutnya

Konferensi Wikimedia dan Pendidikan 2019

Penulis: Nur Rahmi Nailah   Wikimedia+Education Conference 2019 (WMEDUCON 2019) atau...