Perkenalan dengan Creative Commons Indonesia

Penulis: Wahyu Setioko

 

Sekitar setahun yang lalu, Saya tengah rebahan sambil menggulir linimasa Twitter. Sebuah kicauan tentang Creative Commons (CC) menahan jempol Saya untuk lanjut bergerak. Spontan terlintas kembali teguran halus yang saya dapatkan dari seorang profesor pada bulan pertama studi saya di luar Indonesia. Presentasi digital saya yang bergelimang materi visual dikomentari olehnya lantaran tidak menyantumkan kredit yang pantas terhadap penciptanya. Jujur, saya menyembunyikan kebingungan saat mendengarnya. Hal tersebut rasanya lumrah di Indonesia atau setidaknya lumrah bagi lingkungan tempat saya dibesarkan hingga lulus sarjana (catatan: ini tentunya berbeda dengan sitasi pada karya ilmiah yang tentunya diajarkan di Indonesia). Bulan berikutnya, profesor tersebut lantas memasukkan sedikit materi tentang hak cipta, perlunya meminta izin untuk menggunakan karya berhak cipta, dan bagaimana mencari serta menggunakan karya-karya berlisensi Creative Commons yang dapat digunakan tanpa perlu meminta izin penciptanya.

 

Di Indonesia, literasi masyarakat terhadap hak cipta masih rendah. Ironisnya, hal ini justru berbanding terbalik dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Dampaknya, ketidaksengajaan plagiarisme terhadap konten digital terjadi di mana-mana. Biasanya yang dirugikan adalah pencipta aslinya, tetapi tak jarang penggunanya juga dirugikan. Dalam kasus saya, saya jadi merasa malu di hadapan profesor dan teman-teman dari beragam belahan dunia karena ketidaktahuan saya terhadap hak cipta. Untung hanya malu, tidak sampai harus membayar ganti rugi yang umum terjadi di banyak negara.

 

Jadi, saat kicauan itu mengajak pembacanya untuk belajar dan menjadi pelatih tentang Creative Commons di Indonesia (Training of Trainers), saya langsung ambil tantangan itu. Pikir saya sederhana, jangan sampai ada lebih banyak orang Indonesia yang ‘memalukan’ karena tidak paham hak cipta dan penggunaan karya berlisensi terbuka. Jangan seperti saya kala itu. Harus lebih banyak orang tahu. Seberapa banyak? Sebanyak pengguna internet di Indonesia.

 

Singkat cerita, proses seleksi Training of Trainers Creative Commons Indonesia (CCID-ToT) berlangsung 10 bulan. Alhamdulillah, saya berhasil melalui tiga misi (baca: ujian) yang minim petunjuk selama 10 bulan itu. Saya belajar secara otodidak di sela-sela rutinitas pekerjaan dan keluarga. Ternyata proses tidak mengkhianati hasil. CCID memberikan beasiswa sertifikasi internasional Creative Commons dan beasiswa perjalanan untuk mengikuti Creative Commons Global Summit 2019 di Lisbon, Portugal. Alhamdulillah, saya dapat banyak kesempatan belajar.

 

Creative Commons Global Summit 2019 (CCGS 2019), 9-11 Mei 2019, Lisbon, Portugal.

Bagi saya, sejak awal terjun ke komunitas Creative Commons Indonesia adalah sebuah misi balas dendam. Membalas ketidaktahuan saya yang berujung memalukan dengan pengetahuan sedalam-dalamnya terhadap hak cipta, lisensi CC, dan budaya terbuka. CCID memfasilitasi saya untuk belajar lebih jauh, baik literal maupun kiasan tentang CC hingga ke Portugal.

 

Lisbon, ibukota Portugal, merupakan salah satu kota tertua di Eropa bahkan di dunia. Tak heran, Lisbon memiliki museum yang jumlahnya tak cukup dihitung dengan jari. Saya selalu suka museum. Bagi saya, museum adalah mesin waktu. Tempat kita bisa kembali melihat masa lalu dan membayangkan masa depan. Sempurna rasanya ketika CCGS 2019 diadakan di Museum Oriental (Museo du Oriente), Lisbon. Dengar-dengar, salah satu alasan pemilihan museum sebagai tempat bertemunya pegiat hak cipta dan lisensi terbuka ini adalah karena museum merepresentasikan ranah, ruang, area, atau domain publik yang terbuka untuk dinikmati siapa saja. Selain itu, memang pada dasarnya semua koleksi karya-karya di museum sudah bebas hak cipta dan telah resmi masuk ke dalam domain publik sebagai sumber daya bersama (commons). Alasan yang idealis, bukan?

 

Ekspektasi saya terhadap CCGS 2019 sewajarnya saja. Saya telah siap untuk duduk manis mendengarkan dan menyerap pengetahuan dari berbagai pembicara selama 3 hari. Saya juga siap untuk bertemu dan memulai percakapan singkat untuk membuka peluang berjejaring dengan orang-orang ‘besar’ di bidang hak cipta dan lisensi terbuka. Saya sengaja menyiapkan pakaian formal terbaik saya dan menjaga perilaku di depan para ahli dari berbagai belahan dunia. Ya, selayaknya sebuah pertemuan tingkat tinggi dunia. Rupanya, pertemuan yang satu ini berbeda dengan ekspektasi saya. CCGS 2019 begitu kasual. Alih-alih presentasi satu arah yang berujung dengan tanya jawab, pertemuan ini dirancang dengan puluhan sesi-sesi paralel di beberapa tempat yang tersebar di dalam museum. Mulai dari auditorium, aula, lorong-lorong museum, ruang rapat hingga kelas besar.

 

Seniman pegiat musik berlisensi CC memamerkan karya dan bisnis terbukanya di auditorium. Musik-musik berkualitas pun diperdengarkan. Ada juga pembuat komik literasi hak cipta yang karyanya laris diserbu peserta. Di aula, ada sebuah demonstrasi memasak menarik yang menganalogikan perbedaan remiks dan koleksi beserta implikasinya terhadap lisensi CC yang digunakan. Sementara lorong-lorong museum diisi dengan berbagai stan pameran dengan karya menarik seperti mesin cetak 3 dimensi buatan rumahan, alat menggambar pola otomatis, media pembelajaran oktagon, dan karya-karya lainnya. Di ruang rapat kecil, para praktisi gerakan keterbukaan, kebijakan, dan pendidikan berkumpul untuk mendiskusikan strategi reformasi hak cipta, akses terbuka (open access), sains terbuka (open science), pendidikan terbuka (open education), dan arsip perpustakaan serta museum. Sementara itu, kelas-kelas besar dipenuhi dengan lokakarya-lokakarya interaktif yang melibatkan peserta dalam kegiatan belajar yang menyenangkan.

 

Nuansa CCGS 2019 yang ramah dan penuh keakraban mendukung interaksi-interaksi antar praktisi dan komunitas CC dari berbagai penjuru dunia. Saya sendiri juga jadi berkenalan dengan pegiat pendidikan terbuka dari Denmark, sutradara film dari Kolombia, praktisi hak cipta dari Inggris, guru besar universitas di Kanada, dan masih banyak lagi. Semoga jejaring ini dapat bermanfaat ke depannya untuk saya pribadi, untuk literasi masyarakat Indonesia dan lisensi terbuka.

 

Lihat keseruan CCGS 2019 di Lisbon melalui foto-foto karya Sebastian ter Burgdi sini.

 

Kembali ke Indonesia

Menghadiri CCGS 2019 di Portugal menginspirasi saya untuk menerapkan pembelajaran-pembelajaran yang saya peroleh dalam rangka membuat masyarakat Indonesia lebih paham terhadap hak cipta dan budaya terbuka. Saya sadar bahwa hak cipta merupakan isu penting yang tidak mudah dipahami. Oleh karena itu, dibutuhkan cara yang menarik untuk membuat orang paham terhadap isu ini. Satu hal konkret yang terpikir dalam benak saya adalah dengan mengadakan lokakarya yang dilakukan melalui permainan-permainan menyenangkan, alih-alih sosialisasi satu arah.

 

Saya tidak sabar untuk mengadaptasi pendekatan literasi hak cipta, budaya berbagi, dan lisensi terbuka untuk masyarakat di Indonesia dengan cara yang menarik. Harus lebih banyak lagi masyarakat yang paham tentang hak cipta, lisensi CC, dan budaya terbuka. Sebanyak pengguna internet di Indonesia.

 

Terima kasih untuk Creative Commons Indonesia yang telah memfasilitasi dan memberikan kesempatan belajar yang komprehensif tentang hak cipta, budaya terbuka, dan lisensi CC. Mulai dari pelatihan menjadi pelatih CC, sertifikasi internasional, hingga CCGS 2019. Saya siap membagikan pengetahuan yang diperoleh untuk kemaslahatan orang banyak, khususnya masyarakat Indonesia.

Sebelumnya

Konferensi Wikimedia dan Pendidikan 2019

Penulis: Nur Rahmi Nailah   Wikimedia+Education Conference 2019 (WMEDUCON 2019) atau...

Berikutnya

Kebijakan Ruang Ramah Acara

Kebijakan ruang ramah acara adalah panduan pertemuan komunitas Wikimedia untuk mendorong...