Dalam upaya mendukung terciptanya pendidikan yang inklusif dan berbagi pengetahuan, Creative Commons Indonesia (CCID) menginisiasi Forum Kolaborasi Sumber Pembelajaran Terbuka di Hotel Akmani, Jakarta Pusat pada 17 September 2024. Acara yang didukung oleh Wikimedia Foundation ini dihadiri oleh 13 perwakilan dari berbagai institusi, lembaga, organisasi, dan komunitas. Tujuan utama dari acara ini adalah mengidentifikasi peluang dan potensi kolaborasi dalam produksi dan pemanfaatan Sumber Pembelajaran Terbuka (SPT) di Indonesia.

SPT mencakup bahan ajar dan penelitian yang dipublikasikan dengan lisensi terbuka, seperti Creative Commons, yang memungkinkan akses bebas, penggunaan ulang, adaptasi, dan penyebaran tanpa batas oleh semua orang, terutamanya pendidik. Pada era digital, kebutuhan pendidik akan bahan ajar yang dapat disesuaikan dan disebarluaskan semakin meningkat. Dengan adanya SPT, pendidik lebih leluasa dalam menciptakan dan berbagi materi pendidikan, serta mendukung kolaborasi dan memberikan akses pendidikan yang inklusif.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh Fitriayu sebagai Chapter Lead CCID. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem SPT yang inklusif di Indonesia. Gunawan Zakki, Acting Chief of Education UNESCO Jakarta, memaparkan konsep dan peluang SPT di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa di berbagai negara, SPT mulai diadopsi di luar sektor pendidikan, seperti bisnis, industri, pertanian, dan pemerintahan. Namun, sebagai langkah awal, pengembangan SPT dapat dimulai dari sektor pendidikan.

Forum ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama membahas upaya berbagi pengetahuan dari berbagai organisasi yang platformnya telah menerapkan lisensi terbuka, seperti Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Center (SEAMEO SEAMOLEC) tentang platform e-learning, Wikimedia Indonesia dengan platform Wikipedia dan Wikimedia Commons. The Asia Foundation turut memperkenalkan platform perpustakaan digital LetsReadAsia yang menyediakan ribuan koleksi buku cerita anak yang dapat diakses siapa saja.

Perwakilan dari pemerintah juga memberikan kontribusi signifikan. Perpustakaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) memaparkan berbagai platform yang mereka miliki, salah satunya penerjemahan daring. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan Repositori Ilmiah Nasional dan situs penerbit BRIN yang sudah menggunakan lisensi CC. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM RI turut memaparkan upaya mereka dalam menyosialisasikan kekayaan intelektual, utamanya hak cipta di Indonesia. Terakhir, Gimpscape ID sebagai komunitas yang berfokus di bidang desain grafis turut berbagi tentang penggunaan lisensi CC dalam karya desain grafis.

Pada sesi kedua, peserta berdiskusi mengenai tantangan seperti pemahaman akan SPT, lisensi hak cipta, dan peluang penerapan SPT. Salah satu kendala utama yang diangkat adalah belum adanya portal terintegrasi untuk mengakses koleksi SPT yang sudah ada karena setiap lembaga memiliki repositori sendiri yang belum saling terhubung. Selain itu, pemahaman di kalangan pendidik Indonesia tentang lisensi terbuka dan penggunaan SPT menjadi hambatan yang memerlukan perhatian serius. Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi dengan lembaga terkait untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman pendidik.

Forum ini menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk saling berbagi ide dan pengalaman dalam membangun ekosistem SPT yang berkelanjutan. Komunitas Guru Belajar Nusantara, SEAMEO QITEP in Science, Balai Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat, 2030 Youth Force, serta Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia juga turut hadir dan memberikan masukan dan usulan kolaborasi. Pada akhir kegiatan, muncul berbagai gagasan peluang aksi kolaborasi dalam pengembangan dan pemanfaatan SPT di Indonesia, seperti lokakarya, webinar, kompetisi, dan kampanye daring.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, Forum Kolaborasi Sumber Pembelajaran Terbuka diharapkan menjadi langkah awal menuju ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, terbuka, dan berkelanjutan di Indonesia.

Penulis