Gerakan terbuka merujuk pada prinsip bahwa pengetahuan harus tersedia secara bebas bagi semua orang, serta dapat dibagikan, dikembangkan, dan diperkaya secara kolaboratif tanpa hambatan teknis maupun hukum. Di Indonesia, gerakan ini masih menghadapi berbagai tantangan signifikan. Salah satu hambatan utama adalah kesenjangan digital, dimana infrastruktur teknologi dan akses internet belum merata sehingga sebagian masyarakat belum menikmati manfaat dari informasi dan layanan terbuka. Di samping itu, keterbatasan sumber daya dan belum optimalnya dukungan kebijakan turut menghambat laju perkembangan inisiatif keterbukaan.

Oleh karena itu, perlu kolaborasi erat antara berbagai pemangku kepentingan mulai dari pelaku gerakan terbuka, pemerintah, hingga masyarakat luas untuk memperluas gerakan keterbukaan secara lebih inklusif dan merata di Indonesia. Dalam forum ini, hadir sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, antara lain Prof. Dasapta Erwin Irawan (ITB), Prof. Juneman Abraham (Universitas Bina Nusantara), Hendro Subagyo (BRIN), serta perwakilan komunitas seperti Dian Agustin, Rahma Azizah, dan Hisyam (Wikimedia Indonesia), Fitriayu (Creative Commons Indonesia), Anjar Akrimullah (OpenStreetMap), dan Ahmad Haris (LibreOffice).

Salah satu sesi yang menjadi fokus dalam forum ini adalah mengenai kebijakan dan regulasi. Menurut Ari Juliano Gema, kebijakan dan regulasi di Indonesia saat ini belum sepenuhnya mendukung ekosistem pengetahuan terbuka. Ia menyoroti belum adanya pengaturan yang secara eksplisit mengatur keterbukaan, yang berdampak pada masih lebarnya kesenjangan antara sumber pengetahuan dan akses publik. Dalam sesi yang dipandu oleh Rachel Judhistari (Wikimedia Foundation), turut disoroti tantangan yang dihadapi Wikipedia sebagai salah satu platform pengetahuan terbuka. Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan generatif, Wikipedia tetap mengandalkan kontribusi manusia untuk menuliskan dan memperkaya pengetahuan, termasuk dalam menjembatani kesenjangan informasi di Indonesia.

Open Indonesia 2025 diselenggarakan oleh Wikimedia Indonesia bekerja sama dengan Wikimedia Foundation dan Creative Commons Indonesia. Forum ini berlangsung pada 16–17 Juni 2025 di Bandung, menghadirkan 30 peserta dari berbagai lembaga dan pemangku kepentingan yang mengusung gerakan terbuka di Indonesia. Para peserta berasal dari beragam sektor, mulai dari pendidikan terbuka (open education), sains terbuka (open science), akses terbuka (open access), data terbuka (open data), budaya terbuka (open culture), hingga perangkat lunak sumber terbuka dan bebas (free and open source software).

Ketua Umum Wikimedia Indonesia, Hardiansyah, yang juga menjadi penggagas pertemuan ini menyatakan bahwa momentum Open Indonesia 2025 perlu dimanfaatkan sebagai titik kebangkitan gerakan terbuka di Indonesia. Ia berharap keterbukaan dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas, sehingga kesenjangan dalam akses pengetahuan dapat diatasi. Dalam forum ini, para peserta turut merumuskan strategi dan peta jalan gerakan terbuka ke depan, termasuk rencana kolaborasi lintas sektor yang akan diwujudkan melalui kegiatan rutin maupun tahunan.


Organisasi yang hadir dalam Open Indonesia 2025 ini antara lain: Wikimedia Indonesia, Creative Commons Indonesia, Wikimedia Foundation, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah, ICOM Indonesia, Perkumpulan OpenStreetMap Indonesia, Ilmu Perpustakaan Informasi dan Kearsipan, SEAMEO SEAMOLEC, Komunitas LibreOffice Indonesia, Sains Terbuka Indonesia dan Open Access Indonesia, The Conversation Indonesia, Universitas Bina Nusantara, Institut Teknologi Bandung, Universitas Jember, dan Lab Preservasi Universitas Gadjah Mada.

Keterangan gambar: Open Indonesia 2025, Day 1 oleh Nicky Lesmana dilisensikan dengan CC BY-SA 4.0

Penulis